Subscribe

Brasil

Petualangan di Hutan Amazon: Karbon di Negeri Koboy

Entri dari Rane Cortez, penasihat program karbon hutan The Nature Conservancy, ini mengisahkan perjalanan 10 hari Rane menuju São Félix do Xingu, kota besar di jantung Amazon di Brazil bagian utara. Ia bekerja bersama masyarakat lokal dan para ahli menyusun berbagai strategi yang potensial mengurangi emisi karbon dari hutan dan memberikan penghidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal.

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Nur Hasanah & Elis Nurhayati.

"Saya menemukannya!" kata Peter Ellis, ilmuwan kehutanan The Nature Conservancy, mengumumkan kepada kami ketika akhirnya ia menemukan lokasi titik satelit pertama dalam perjalanan 10 hari menuju hutan hujan Amazon. Peter berdiri tepat di tengah semak berduri yang dikelilingi oleh semut penggigit. GPS rupanya memiliki rasa humor yang cukup lucu.

Sambil menjelajahi jalan untuk menemukan titik berikutnya, saya terus berpikir tentang tantangan untuk menggambarkan hal-hal keren yang kami lakukan di São Félix do Xingu, sebuah kotamadya seluas 8,4 juta hektar di Brasil yang luasnya kurang lebih sama dengan Panama.

Rinciannya mungkin terdengar rumit, namun premis dasar di belakang “forest-carbon” work kami sebenarnya cukup sederhana:

  • Pohon terbuat dari karbon.
  • Penebangan dan pembakaran pohon akan menghasilkan karbon dioksida dalam jumlah besar ke atmosfer dan berkontribusi pada perubahan iklim.
  • Jika negara-negara seperti Brasil dapat memperlambat laju kerusakan hutan, mereka akan menerima pembayaran dari program-program internasional untuk mengurangi polusi karbon,
  • Brasil kemudian dapat menginvestasikan uang tersebut untuk membantu melestarikan hutan dan menciptakan berbagai peluang ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat lokal.

Selama 10 hari perjalanan tersebut, kami akan mengetahui tutupan hutan di berbagai titik di São Félix seperti apa sehingga kami dapat memperkirakan secara kasar seberapa besar karbon yang tersimpan di pohon-pohon tersebut.

Titik-titik hutan ini merupakan lokasi khusus di mana satelit memancarkan sinar laser dari ruang angkasa dan mengumpulkan informasi “yang dirasakan dari jauh” mengenai ukuran dan tinggi pohon-pohon. Dengan melihat sendiri pohon-pohon tersebut, kami dapat menilai akurasi data dari satelit itu. Kami memang menggunakan peralatan sederhana, tetapi sebenarnya ini termasuk ilmu tingkat tinggi.

Kru TNC terdiri dari Peter Ellis, analis karbon hutan yang sudah disebutkan tadi, ilmuwan senior Bronson Griscom, spesialis pengembangan karbon hutan Angelica Toniolo, dan saya sendiri. Angelica dan saya berkantor di TNC Belem, ibukota Para, Brasil. Peter dan Bronson berkantor di kantor pusat TNC di Arlington, Virginia.

Perjalanan kami dimulai dengan berkendaraan selama lima jam menuju base camp, sebuah peternakan sapi pribadi sekaligus tempat operasi penebangan kayu yang dimiliki oleh José Wilson, presiden serikat peternak sapi. Sepanjang jalan terdapat banyak sekali lubang besar menganga seukuran truk kami, jembatan reyot yang membuat kami memejamkan mata ketika menyeberanginya, dan serombongan tarantula yang sedang bermigrasi. Sambil mengemudi, saya terpesona dengan pemandangan yang kami lewati --padang rumput tak bertepi.

“Koboy Karbon” Sejati

Perjalanan ini jelas menggambarkan bahwa mata pencaharian pemilik tanah dan-peternakan di São Félix sangat tergantung pada pendapatan hasil ternak sapi. Hal ini terbukti dengan adanya padang rumput yang rusak, dan untuk memperluas padang rumput guna mencukupi kebutuhan ternak, mereka akan membuka hutan dan menebang pohon serta mengubahnya menjadi padang rumput.

Jadi, agar program pengurangan emisi dari deforestrasi sukses, bukan berarti kita harus menutup akses hutan terhadap masyarakat dan mengatakan kepada masyarakat, "Maaf, Anda tidak bisa mencari nafkah lagi, kita menyimpan karbon di sini." Namun solusinya adalah kita harus bekerja sama dengan para pemilik ternak, seperti Jose Wilson. Solusi ini juga akan menyediakan kesempatan ekonomi tanpa menimbulkan kerusakan hutan yang parah.

Sebagai contoh, di Amazon, umumnya dalam per hektar lahan (satu hektar adalah sekitar 2,5 acres), kita hanya akan menemukan satu sapi. Artinya, bahwa ada peluang besar untuk bekerjasama dengan mitra kuat di sektor swasta di São Félix untuk mempromosikan kegiatan-kegiatan seperti restorasi padang rumput dan agroforestry yang dapat meningkatkan hasil produksi padang rumput yang sudah ada tanpa menambah kerusakan hutan.

Kerjasama ini dapat menciptakan kader "koboy karbon" sejati yang menjerat baik sapi maupun karbon melalui kegiatan berkelanjutan. Hal ini selain dapat menciptakan peluang ekonomi juga sekaligus dapat melindungi kesehatan hutan. Cara ini adalah salah satu solusi yang sudah mulai dipertimbangkan oleh para pihak yang berkepentingan di São Félix.

‘Vine Hell’

Kami tiba di peternakan Jose Wilson ketika hari sudah gelap. Setelah menikmati pesta ikan piranha segar nan lezat, kami memasang tempat tidur gantung dan kelambu untuk melepas penat. Di pagi hari, setelah sarapan nikmat yang dimasak oleh tuan rumah, yaitu Ana, kami pergi dengan Roberto, salah satu koboy dan Adalberto, seorang rimbawan, untuk bertemu dengan titik satelit pertama kami - "vine hell "(sebutan kesayangan kami).

Penjelajahan setiap titik, prosesnya sama. Pertama, kita menembus semak rimbun di jalan yang kita lalui dengan menggunakan GPS sebagai panduan untuk mendapatkan titik satelit kami. Kemudian gunakan kompas untuk menempatkan garis-garis dari pusat ke empat arah mata angin (utara, selatan, timur, dan barat) untuk melihat semua aspek di sekeliling pohon dari berbagai sudut. Yang terakhir adalah ahli hutan akan menganalisa struktur dan komposisi jenis di kawasan hutan tersebut.

"Vine hell" adalah bagian kecil hutan yang terletak di tengah padang rumput yang luas. Sebelumnya area ini memang sudah rusak parah dan gundul, dan kemungkinan akan dijadikan sebagai padang rumput baru. Sayangnya, hal ini banyak dilakukan di banyak negara bagian yang mempunyai hutan di kawasan lahan peternakan pribadi.

Lebih dari tiga hari, kami mengunjungi titik lain dalam "vine hell," sebuah titik di dekat kawasan lindung, dan dua titik lagi lainnya berada di lokasi yang berbeda yaitu di tanah pribadi. Kami terkesan dengan kualitas hutan yang bervariasi di seluruh wilayah tersebut.

Untungnya, titik akhir kami dikelilingi oleh beberapa pohon-pohon besar, alas hutan relatif bersih dan terdapat pohon raksasa, Strangler Fig. Di bawah keteduhan pohon ini, saya merenung, mulai memetakan visi tentang bagaimana nilai preposisi daerah seperti "vine hell" ini dapat berubah dengan berbagai investasi.

Khususnya, dengan sedikit modal awal saja, São Félix sangat berpotensi mendukung program restorasi hutan di mana vines dibabat untuk mendukung regenerasi bibit pohon alami di hutan yang telah rusak, dan "meningkatkan penanaman" jenis kayu bernilai tinggi, seperti mahoni. Program tersebut akan membantu memulihkan hutan sekaligus memberikan insentif ekonomi yang kuat bagi para pemilik tanah untuk menjaga keberadaan hutan tersebut.

'Pohon Adalah untuk Cucu Kami'

Untuk lebih melengkapi gambaran, pada hari terakhir perjalanan Amazon, kami mengunjungi perkebunan kecil kakao yang sudah menunjukkan hasil bagaimana padang rumput yang lama ditinggalkan dapat dikembalikan ke hutan asli campuran yang bernilai tinggi sejalan dengan waktu.

Pertanian ini dimiliki oleh Raimundo Freitas do Santos dan merupakan bagian dari koperasi produsen kakao di São Félix. Pada lahan tersebut, selain pohon kakao juga ditanami mahoni dan jenis kayu lainnya.

Manajer perkebunan, Manuel Teixeira-Silva, mengajak kami berkeliling sambil menjelaskan bahwa kakao memberikan pendapatan stabil selama jangka panjang dan menghasilkan hasil yang baik dengan adanya keseimbangan antara intensitas cahaya matahari dan naungan pepohonan. Jika pohon kakao mati, pemilik tanah masih memiliki hutan dengan beberapa pohon kayu yang bernilai tinggi.

"Kakao adalah untuk kami," jelas Manuel, "dan pohon-pohon ini adalah untuk anak cucu kami."

We’re Accountable

The Nature Conservancy makes careful use of your support.

More Ratings